Tampilkan postingan dengan label Cerpen koe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen koe. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Oktober 2014

Cerita SA part 1

Dunia memang kejam, setidaknya biarkan diriku memilih masa depanku sendiri. Kenapa? Kenapa hanya aku yang sejak lahir tidak mengenal siapa orang tuaku ini direnggut kebahagiannya? Hei seseorang, tolong diriku ini. Tolong beritahu diriku apakah arti hidupku di dunia ini? Jika memang tak ada, untuk apa aku hidup?
Kerajaan yang sudah tidak lagi mendengar suara rakyatnya dan rajanya pun semena-mena tanpa memikirkan rakyatnya. Kemiskinan terjadi dimana-mana, korupsi, kolusi dan nepotisme sudah menjadi maknan sehari-hari pejabatnya. Siapa juga takkan menginginkan untuk singgah di kerajaan ini, mendengarnya saja pun enggan. Cerita ini dimulai pada kerajaan yang sudah diambang kehancurannya.


Seperti biasa di sebuah pasar yang ramai nan kumuh banyak pedagang yang menjual berbagai barang. Mulai dari makanan seperti roti, buah-buahan, keju, dll. Sampai budakpun dijual di sini. Tersebut disebuah kios terlihat seorang budak legendaris dan sangat terkenal. Ia terkenal akan keahliannya yang tidak dimiliki oleh budak-budak pada biasanya. Salah satu kemampuannya adalah pembawa sial. Konon orang yang menjadi tuannya secara misterius akan menjadi miskin dan bisnisnya akan bengkrut selama budak tersebut ada disisinya. Terlihat di kios tersebut seorang kakek tua yang menjadi majikan budak tersebut. Mungkin ia menjadi orang kesekian kalinya yang terjebak. Bisnisnya hancur dan tinggal budak itu sendirilah yang bisa ia jual. Dari tatapan mata si budak terlihat semua beban yang ia lalui, selama ini. Penyiksaan, cacian serta makian sudah menjadi kegiatan rutin sebelum ia dioper ke majikan lain yang tidak berbeda pula kejamnya. Terdapat banya luka di tubuhnya yang kurus namun berotot itu. Tangannya yang dirantai dililitkan pada sebuah tiang menggantung pasrah tanpa harapan untuk hidup secercahpun.
Dalam keadaan pasar yang ramai itu, tampak seorang lelaki remaja yang mengenakan jubah hitam berjalan seraya melihat-lihat kekanan kirinya mencari sesuatu. Sesekali ia melihat pada kios-kios tertentu tanpa membeli apapun. Tak lama sampailah ia pada kios kakek tua yang bisnisnya hancur gara-gara si budak legendaris tersebut. Ia melihat lamat-lamat pada barang dagangan kakek tua tersebut. Kakek tersebut pun menghampirinya dan mempersilakannya melihat-lihat budak-budaknya yang ia pajang di pasar tersebut. Tanpa memperhatikan kakek tua tadi lelaki ini hanya menatap seorang budak perempuan. "Hei kakek tua, berapa kau jual orang ini?" Sambil menunjuk budak yang legendaris tersebut. "Tidak mahal tuan, hanya 200 keping perak," kata kakek tua penjual budak tersebut dengan wajah cerah akhirnya ada juga yang mau membeli budak yang membawa sial itu. "Mahal sekali kakek tua, bukankah ini orang yang banyak di bicarakan itu?" Dengan sedikit lemas karena rahasianya sudah diketahui dan harga budak tersebut yang sudah sangat murah malah ditawar lagi. "Tuan, kasihanilah hamba yang telah renta, mencari sesuap makanpun sulit. Jika memang harga yang hamba tawarkan memang terlalu mahal maka sebutlah harga yang tuan kehendaki." Dengan memelas kakek tua itu memohon harga yang pantas pada lelaki berjubah hitam tersebut.
"Wajah cukup cantik dan dia masih muda dan kuat, tuan takkan menyesal jika membelinya." Lanjut kakek tua tersebut.
"Oke, aku ambil dia." Kata lelaki itu seraya menjulurkan tangannya yang menggenggam kantong besar. Wajah si kakek pun menjadi sedikit lebih cerah, apalagi setelah tahu apa isi dari kantong tersebut.
"Apakah anda yakin dengan ini tuan, keping emas sebanyak ini?"
"Ambil saja, lalu cepat turunka ia." Lelaki tersebut membalikan badan dan menunggu orang yang barusan dibelinya. Tak lama kemudian kakek tua tersebut memberikan rantai yang terikat ke leher si budak. Lelaki tersebut pun mulai melangkahkan kaki dan pergi meninggalkan pasar tersebut.
Mereka berdua berjalan hingga sampailah mereka berdua pada sebuah tanah lapang yang sama sekali tidak ada orang yang lewat. Dengan pasrah si budak hanya mengikuti tuannya. Tiba-tiba lelaki itu melepaskan rantai yang ada di tangannya dan mengambil sebuah pedang pendek dari balik jubah hitamnya. Perlahan lelaki tersebut melepaskan sarung pedangnya, terlihat dari kilaunya betapa takamnya mata pedang tersebut. Di dalam hati si budak berkata, "orang sepertiku yang bahkan nyawaku tak bernilai dimata orang-orang takkan aneh jika dibeli untuk memuaskan nafsu membunuh."
Sekelebat kilat terlihat di mata si budak, sesuatu mengucur deras dari lehenya. Pandangannya melayang berputar, dan pada detik berikutnya semua terlihat gelap. Angin dingin menerpa kulit pucatnya yang terjatuh begitu saja. Terdengar suara pedang yang dimasukan kembali ke dalam sarungnya. Suara burung gagak pun nyaring terdengar berterbangan di segala penjuru. Terlihat tubuh kaku seorang gadis tergeletak diantara rerumputan.
"Sekarang kau sudah bebas, kau bisa pergi ke tempat manapun yang kau suka, kau bebas merasa aman tanpa takut penyiksaan." Suara lelaki tersebut. Tubuh yang kaku tadi perlahan mulai bergerak. Sambil mengumpulkan nyawa yang tadi sempat melayang.
"Kenapa kau tidak membunuhku?" Tanya mantan budak tadi.
"Kenapa pula aku harus membunuhmu?" Jawab lelaki tersebut.
"Bukankah kau membeliku untuk dibunuh?"
"Kenapa pula aku harus repot-repot membayar sekantong keping emas hanya untuk dibunuh?"
"Aku hanya budak, kebebasan bagiku adalah ketika aku diberi tugas oleh majikanku. Selain itu walau aku engkau bebaskan pun, aku tak punya tempat untuk kembali."
"Gawat!"
"Kenapa?"
"Aku menggunakan semua uangku tadi untuk menebusmu, sekarang aku benar-benar lapar."
"Kalau begitu kenapa kau tadi tidak, menerima harga awalku? Kenapa pula kau harus memberikan seluruh uangmu untuk membeliku?"
"Aku hanya tidak suka."
"Apanya?"
"Aku tidak suka ketika nyawa seseorang dijual dengan murah, bahkan segunung emas pun takkan sanggup untuk menebusnya." Demi mendengar perkataan lelaki tersebut senyum si budak perlahan terkembang, dari matanya perlahan menetes air yang menghangati pipinya. Dalam hati ia berkata "Terima kasih, baru kali ini ada seseorang yang benar-benar menganggapku sebagai seseorang. Aku hanyalah budak hina, hidupku hanyalah bergantung pada majikanku. Aku tidak mempunyai kemampuan dan pengetahuan sama sekali untuk terbang di langit yang tinggi. Tapi ia datang kepadaku, memberikan secerah harapan. Ia memberikan diriku ini kebebasan untuk menjelajahi dunia ini."
"Kenapa kau menangis?" Kata lelaki tersebut. Seketika gadis itu mengusap air matanya berlutut di hadapan si laki-laki yang memasang wajah bingung dan berkata dengan tegas. "Aku Vati mulai hari ini aku adalah pelayan dari anda, aku akan menjadi sayap untuk anda, aku akan menjadi tangan untuk anda, aku akan selalu berada di sisi anda sampai akhir hayatku. Hidupku adalah milik anda, aku akan mengikuti anda kemanapun perginya." Sontak lelaki itu terkejut dan mengambil langkah mundur.
"Aku sudah memutus rantai yang mengikat leher, kaki, dan tanganmu. Sekarang kau bisa bebas pergi ketempat apapun yang kau suka."
"Walau aku sudah tak terikat lagi, namun di dunia ini aku tak memiliki tempat untuk pulang." Sejenak lelaki itu berpikir.
"Aku mengerti, jika kau tidak memilikinya, maka akan kuberikan satu. Aku akan memberikanmu tempat untuk kembali." Dalam hidupnya baru kali ini si budak mengucapkan sumpah setia yang berasal dari hatinya sendiri. Cerita masih terus berlanjut. Namun sekian untuk bagian ini.

Satu Dua dan Tiga Keajaiban

Dari Waktu ke Waktu Tahun 2012 - 2013 (SMP)
Suatu waktu yang aku sendiri telah lupa kapan tepatnya kejadian ini terjadi. Aku mengikuti sebuah acara yang diadakan oleh RUBEEK. Hari pertama saat yang para peserta lainnya belum datang, aku membantu panitia yang mengurus game dan berbagai macam hal lainnya. Setelah itu acarapun berjalan sebagaimana mestinya. Di hari kedua saat selesai acara, aku melihat ada kakak panitia yang seperti mencari2 sesuatu di kolam empang, karena penasaran jadi kubantu deh. Ternyata ia sedang mencari pipa yang digunakan untuk game yang tercebur ke empang yang burem dan tidak memungkinkan seseorang melihat hingga ke dasar empang tersebut. Setelah beberapa menit berputar-putar dan tidak ketemu, aku berjalan ke pinggir empang dan sempat terlintas di pikiranku, kalau pipa segede itu ngegelinding terus nyebur kayaknya gak bakalan jauh dari pinggir. Tetap saja tidak ketemu, akupun bertanya ke panitia seperti apa pipanya (padahal sudah tahu), "yang tadi dipake untuk lomba tuh" kata kakak panitia yang di pinggir empang, (udah mandi dan bersih2). Akupun berkata sambil menyelamkan tanganku "seperti ini?" Ketika aku mengangkat tangan ku, aku sudah mengangkat pipa yang terdapat banyak lubang di permukaannya. Yah, ini hanya satu dari ribuan kejadian yang aku sendiripun tak tahu mengapa.

Suatu ketikaada ulangan pelajaran yang sebenernya aku sedikit bermasalah. Kalau mau tahu pelajaran apa itu, tentu saja PKN. Ulangan pkn dan aku pada saat itu belum belajar sama sekali. Dengan pasrah kukerjakan soal pg dengan modal keberuntungan belaka. Kalian pasti tahu metode hitung kancing atau mengundi jawaban di pg, nah aku juga menggunakannya nyaris di seluruh soal. Mungkin hanya satu atau dua yang kujawab karena aku tahu itu jawabannya. Ketika nilainya keluar, aku sangat terkejut, di tanganku ada kertas ulanganku yang bertuliskan nilai 90. Mungkin tidak terlalu besar, tapi cukup menakjubkan untuk orang yang mengerjakan 90% soal dengan mengandalkan keberuntungan. Penjelasan sekilas tentang soal, ada 10 soal pg yang membahas tentang bela negara. Aku hanya menjawab dengan yakin UU tentang bela negara, tapi ternyata malah itu yang salah. (Dengan kata lain, semua yang kuundi adalah jawaban yang benar)

Ujian basket, mata pelajaran olahraga yang tidak bisa aku ikuti. Mungkin kalau aku bermain akan ada satu dua tiga empat atau lima orang yang akan terluka. Asal aku main biasa semuanya tidak apa sih, tapi aku bahkan tidak bisa ngeshoot bola ke gawang ataupun dribble bola. Saat itu ujiannya shoot bola dari titik penalti. Aku yang tidak bisa main bola basket sekalipun ngeshoot dengan harapan bolanya masuk. Akhirnya dari 3 lemparan 2 yang masuk. Yang jago main basket malah cuma 1 yang masuk.

Pulang sekolah badan lemes, berharap langsung pulang ke rumah tanpa harus naik angkot (males nunggunya). Walau bel telah berbunyi sejak tadi, aku masih berada di sekolah ini bersama dengan anak-anak yang jemputannya belum datang. Demi membuang rasa bosan, kami bermain bola di lapangan al-izzah yang sangatlah luas dan berkualitas. Saking berkualitasnya ada satu sampai sepuluh lubang di permukaannya. Tak lama kemudian sang jemputanpun datang. Akupun ikut pulang dengan berjalan hingga perempatan dan menunggu angkot. Inilah yang membuatku malas naik angkot, yang pertama yaitu lama. Setelah dapat angkot, aku langsung bersandar di pojokan sambil membaca novel. Sampailah aku di Rau, yang kedua kalau ngetem angkotnya lebih lama lagi. Dengan sabar aku menunggu sambil membaca hingga akhirnya si angkot jalan. Sampailah aku di Royal. Setelah sampai di Royal, aku ganti angkot dengan angkot jurusan Cijawa. Setelah dapat angkot akupun duduk dengan tenang di dalamnya. Angkot ke Cijawa jarang ngetem dan biasanya kalaupun ngetem gak bakalan lama. Lalu tak beberapa lama kemudian angkotpun melaju. Yang ketiga adalah adanya kemungkinan si angkot akan ganti jurusan. Itulah yang terjadi padaku sekarang ini. Aku diturunkan di pertigaan yang kalau belok kanan berarti ke Cilegon. Akupun mencari angkot lagi. Hari menjelang maghrib dan matahari telah condong jam menunjukan jam 5.45 dan aku masih belum dapat angkot (terhitung sudah 5 menit setelah di turunkan tadi). Tiba-tiba saja ada orang nyamperin dan berkata "dek rumahnya dimana?" akupun menjawab sekedarnya. Ia berkata lagi "mau bareng gak dek, rumah saya di rs. Gak usah bayar kok dek tenang aja," orang tersebutpun menepuk2 jok motornya. Akupun menerima tawarannya dengan sedikit rasa curiga. Selama perjalanan aku hanya terdiam saja, sesekali mengobrol dengan orang tersebut. Aku diantarnya hingga gerbang depan rs. Mau belanja dulu, katanya. Yah, diantar sampe sini dengan gratis saja sudah sangat berarti bagiku. Akupun memperhatikannya terus-menerus hingga ia menyebrang ke indomaret yang ada di depan gerbang rs. Akupun berjalan hingga sejajar persis ke gerbang. Saat itu aku menengok ke belakang dan orang yang tadi mengantarku beserta motornya sudah tak ada di sana. Aku mengira dia sudah pulang, akupun ikut pulang ke rumahku. Dalam kejadian ini ada dua hal yang janggal, yang pertama jarak antara gerbang dan tempat aku berdiri saat itu sangat dekat takkan sampai 5 detik untuk berjalan hingga di gerbang persis mana ada orang belanja dan pergi dari toko tersebut kurang dari 5 detik hingga aku tidak bisa melihatnya lagi. Kalaupun ada mungkin ia bertanya dan barang yang ia tanyakan tidak ada dan langsung pergi. Namun tadi kulihat ia masuk ke dalam dan selayaknya orang belanja muter2 di dalam. Tapi tetap saja aneh kalau naik motor tak mungkin hanya 5 detik. Yang kedua lumayan bikin kulit merinding. Saat sampai rumah, jam yang kupakai dan di dinding rumah menunjukan jam 5.54. Itu berarti aku hanya melewati 9 menit dari Royal hingga ke rumah. Normalnya itu adalah waktu tempuh dari depan gerbang rs menuju ke rumahku (1 km).

Pulang dari Malaysia aku naik pesawat. Aku daintar hingga bandara dan dari situ aku akan sendiri. Itu adalah pengalaman pertamaku naik pesawat sendirian tanpa ada orang yang ku kenal dengan baik. Namun ternyata aku tidak akan sendirian. Saat di loket pemberangkatan aku bertemu dengan tetanggaku yang rumahnya di rs. Sungguh kebetula yang luar biasa. Dari ribuan orang yang ada di dunia aku bertemu tetangga sendiri di bandara ini. Mari kita skip hingga kejadiannya. Saat itu aku transit di medan dan langsung menuju ke pesawat berikutnya yang akan menerbangkanku ke Jakarta. Tadinya aku bersama dengan tetanggaku, namun entah bagaimana aku berpisah dengan mereka. Akupun panik dan bingung antara menunggu atau langsung ke pesawat. Namun akhirnya aku menuju ke pesawat, toh nantinya akan bertemu di loket (setidaknya itulah yang kupikirkan). Ternyata di loket aku menemukan masalah yang lebih serius, aku yang belum menukarkan uang ke rupiah diharuskan membayar Rp. 50.000,- untuk uang (lupa). Akupun bingung, saat itu ada bapak2 yang mungkin melihatku dan langsung memberi orang di loket uang lima puluh ribuan. Dia juga mengantarku hingga ke pesawat, aku tak sempat bertanya apapun karena pesawatku mau berangkat. Akupun hanya dapat tersenyum dan melambaikan tangan padanya dan dalam hati aku berkata “ya Allah, balaskanlah kebaikan orang itu, dan jika datang saat dihisab amalnya, jadikanlah amal ini sebagai pemberat yang lebih berat dari dosa2nya. Amin.” Sejak saat itu aku benar-benar paham maksud dari memberi lebih baik dari pada meminta, lebih tepatnya aku dibuat paham tentang itu. Meski sangat banyak kejadian yang terlewatkan, tapi aku cukupkan sekian karena tanganku juga ada batasnya.

2012-2013

Sabtu, 09 Februari 2013

Cerita Horror8


School Ghost part8
Karya  : Muhammad Al-faruq Habiburrahman
“Azka benar, saat ini tidak ada yang perlu kita takutkan. Karena kita tidaklah sendirian.” Kata Faruq juga.
“Bagaimana pun setelah kejadian tadi, kita tidak mungkin melanjutkan acara ini.” Kata Fita menyusul.
“Baiklah semuanya, cari celah atau pun ruang yang dapat kita pergunakan untuk keluar dari ruangan ini!” seru Zaki mengomandoi teman-temannya.
Agan, Cici, Hendra, dan Mona mencoba untuk membuka lubang fentilasi udara. Rofiq, Jundi, Zidny, dan Najmi mencoba membuka pintu yang tertutup tadi. Abdu, Bagas, Bayu, dan Rahma mencoba mencari lubang pipa yang dapat dilalui orang untuk keluar dari ruangan tersebut. Semua murid kelas VII terjebak di dalam aula cadangan milik sekolah.
“Hmm kak, apakah semua ini perbuatan gadis yang rambutnya dikuncir dua itu?” Tanya Azka pada Faruq.
Namanya Anida, aku juga tidak tahu mengenaiini. Anida sepertinya murid yang baik dan ia tidak mungkin melalkukan perbuatan seperti ini.” Jawab Faruq.
“Mungkin saja ia melampiaskan kekesalannya pada murid di sekolah ini.” Kata Azka.
“Mana mungkin Anida melakukan hal semacam itu.” Kata Faruq.
“Bisa saja jika ia mau.” Bantah Azka.
“Tapi kenapa?” Tanya Faruq sambil menatap langit-langit aula cadangan sekolah itu.
“Entahlah, aku juga tidak tahu.” Kata Azka sambil mengikuti tingkah Faruq.
“Baiklah, ayo kita lanjutkan mencari jalan keluar dari sini!” kata Faruq pada Azka.
“Hmm!” seru Azka meng-iyakan. Mereka berduapun mencari jalan agar dapat keluar darii aula tersebut. Di lain t4empat, Rofiq yang mencoba membuka pintu mulai merasa lelah dan akhirnya duduk-duduk untuk istirahat.
“Sial… kenapa pintu ini susah sekali dibukanya?” Tanya Rofiq pada dirinya sendiri sambil menjatuhkan tubuhnya sendiri ke lantai.
“Mungkin ada sesuatu yang mengganjal pintu ini diluar sana.” Kata jundi sambil ikut-ikutan duduk bersama Rofiq.
“Mungkin juga karena kalian sudah menyerah, kita baru saja mulai loh…” kata Najmi.
“Masa bodo dengan pintu itu, adakah jalan keluar lain?” kata Rofiq lagi.
“Orang yang terus menerus lari dari masalah tidak akan pernah berkembang. Ingat, kerang mutiara menghasilkan mutiara setelah menghadapi rasa sakit yang luar biasa.” Kata Zidny kepada Rofiq.
“Orang yang hanya pandai bicara tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah.” Balas Rofiq.
“Bukannya itu kau sendiri?” Tanya Zidny kepada Rofiq.
“Tentu saja bukan!” kata Rofiq sambil bangun kembali dan langsung mendobrak pintu.
Di lain tempat Zaki sedang berkeliling mencari apapun yang dapat membuat mereka keluar dari aula tersebut. Tapi ia malah menemukan Biras yang sedang asyik membaca bukunya, sedangkan yang lainnya sedang mencoba keluar dari aula tersebut. Zaki pun menghampirinya.
“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Zaki pada Biras yang sedang asyik dengan bukunya.
“Kau tidak lihat? Aku sedang membaca buku!” jawab Biras ketus.
“Bukan begitu maksudku, tapi apa kau mau membaca sendirian di sini sedangkan yang lain telah keluar?” kata Zaki lagi.
“Aku hanya mencoba mengisi waktuku sampai yang lain menemukan cara untuk keluar dari sini. Apakah itu salah?” kata Biras malah balik bertanya. Biras memang paling tidak suka jika ada yang mengganggunya ketika ia sedang asyik membaca. Ia memang seorang yang tidak pernah bisa lepas dari buku, alias kutu buku.
“Bukannya tidak benar, tapi itu sama saja seperti kau disuruh piket kelas oleh pak guru, tetapi teman-temanmu yang lain enggan untuk piket. Jadinya, kau piket sendirian. Memangnya kau mau diperlakukan seperti itu?” Tanya Zaki sdkit menjelaskan tentang perbuatan Biras.
“Berisik! Kata orang buku adalah jendela dunia, apakah salah jika membaca buku?” balas Biras masih dengan nada ketus.
“Memang buku adalah jendela dunia, tapi waktu dan tempatnya salah…” Kata Zaki terputus.
“Eh, jendela? Kenapa aku tidak berpikir sejak tadi? Ternyata benar, aku memang orang yang bodoh!” kata Zaki dalam hatinya.
“Terimakasih telah mengingatkanku,  Biras.” Kata Zaki sambil beranjak dari Biras. Biras tidak menghiraukan perkataan Zaki dan melanjutkan bacaannya.
“Faruq! Faruq! Dimana kau?” kata Zaki mencari Faruq untuk menjelaskan idenya.
“Aku disini, ada apa?” Jawab Faruq yang masih bersama Azka.
“Faruq, kita bisa menggunakan jendela untuk kelaur dari sini!” seru Zaki.
“Jendela ya? Hmm, ada satu masalah, jeendela di aula ini sangat tinggi letaknya dan hanya ada satu buah jendela yang tidak terlalu besar ukurannya.” Kata Faruq sambil menunjuk sebuah jendela yang letaknya lumayan tinggi.
“Apa gunanya kita semua ada di sini?” kata Azka tiba-tiba.
“Eh, maksud kamu?” Kata Zaki agak kaget.
“Begini, kita mengalah pada yang agar kita semua dapat keluar.” Kata Faruq menjelaskan pada Zaki.
“Apa maksudmu mengalah?” Tanya Zaki yang semakin penasaran.
“Kita saling menggendong agar yang lain dapat keluar.” Kata Faruq menjelaskan lagi.
“Singkat kata, kita akan membuat tangga.” Lanjut Azka.
“Dengan kata lain, kita harus mengalah.” Kata Faruq.
“Benar begitu maksudku.” Kata Azka sambil tersenyum.
“Lalu siapa yang akan berkorban?” Tanya Zaki lagi-lagi, lalu diikuti gerkan jari Faruq yang menunjuk Azka, Zaki lalu kemudian dirinya sendiri.
“Tinggal mencari dua orang lagi.” Kata Azka.
“Eh, aku?” Tanya Zaki sambil menunjuk hidungnya sendiri.
“Kau ketua kelas bukan? Kalau kau ketua, berarti siap berkorban untuk yang lain. Bukan siap mengorbankan yang lain.”  Kata Faruq kepada Zaki.
“Benar juga sih. Kita beritahukan pada semuanya, siapa yang mau jadi sukarelawan.” Kata Zaki.
“Tidak, jangan beritahu yang lain dulu. Kita beritahukan Fita dan Nia terlebih dahulu.” Kata Faruq.
“Kenapa mereka?” Tanya Zaki.
“Karena merekalah yang pernah bertemu dan berbicara langsung dengan Anida. Mungkin jika kita tetap di sini kita akan bertemu dengannya.” Jawab Faruq.

Bersambung minggu depan...


Kamis, 31 Januari 2013

Cerita Horror7


School Ghost part7
Karya  : Muhammad Al-faruq Habiburrahman
Hari sabtu adalah hari yang terbaik untuk istirahat, sayangnya hari sabtu juga merupakan waktu luang yang sangat biasa digunakan untuk membuat acara. Dan sayangnya juga hari ini Nia dan kawan-kawannya sesama kelas VII F, ingin mengadakan acara di sekolah.
“Huh, hari inikan hari sabtu.” Keluh Rofiq.
“Kau ini kerjanya hanya mengeluh saja, kau lelaki bukan? Jika kau lelaki berhentilah mengeluh.” Kata Hendra teman baiknya Rofiq.
“Hendra benar, lagi pula ini adalah kegiatan kelas, jadi nikmati saja apapun yang bisa kita nikmati.” Kata Faruq secara tiba-tiba.
“Baiklah terserah kalian saja…” kata Rofiq.
“Haha… satu kosong untuk kau!” kata Azka yang muncul tiba-tiba juga. Disusul tawa yang lain. Acara pesta kelas VII F diadakan di sekolah, tepatnya di aula cadangan milik sekolah. Selain karena hari sabtu sekolah menjadi sepi, mereka lebih memilih sekolah karena disana lumayan jauh dari perumahan. Sehingga tidak akan mengganggu.
“Sebelum kita mulai, ayo kita absen terlebih dahulu!” seru Zaki lantang. Setelah itu Zaki pun mengabsen anak kelas VII F. Setelah mengabsen ternyata ada yang tidak hadir, dua orang.
“Ada dua orang yang tidak ke sini?” tany Zaki pada seluruh murid kelas VII F.
“Siapa saja? Sepertinya lengkap semuanya.” Kata Zulfa, fan-nya Zaki.
“Tentu saja itu kau Zaki” kata Cici yang langsung disusul tawa sekelas.
“Bukan, selain aku masih ada dua orang lagi.” Bantah Zaki.
“Lantas siapa?” tanya Zulfa lagi.
“Ezra dan…” Kata Zaki belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Masih kurang satu!” teriak Agan.
“Siapa?” Kata anak kelas VII F pada Agan.
“Seseorang masih ada di kamar mandi!” umumnya lagi. Gayanya seperti ia akan memberitakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Hmm, itu kau. Kau habis dari kamar mandi bukan?” kata Zaki menanggapi seruan Agan.
“Tidak, masih ada seorang lagi yang di kamar mandi tadi.” Kata Agan.
“Mukanya tidak terlalu kelihatan, tapi yang pasti rambutnya dikuncir dua seperti ini.” Kata Agan sambil menggenggam kedua tangannya di samping telinganya.suasana hening sejenak, tiba-tiba bel sekolah berbunyi “teng… teng… teng, teng… teng… teng.” Semua murip pun kaget. Sekolah libur, pasti sekring bel dalam keadaan mati, lalu siapa yang membunyikan bel?
“Semuanya tenang jangan panik! Keluar aula ini dengan pelan-pelan dan jangan terburu-buru!” seru Zaki kencang. Hampir bersamaan dengan seruan Zaki, tiba-tiba pintu aula tertutup. Lampu aula pun mati-nyala, seperti sekolah ini menolak pesta kelas VII F itu. Seluruh murid kelas VII F pun merasa ketakutan dan berlarian di dalam aula yang tidak terlalu besar itu.
“Semuanya diam!” teriak Azka sekuat tenaga. Semua orang pun diam dan berhenti di tempat.
“Apa-apaan kalian ini, kalian sudah SMP masih saja takut dengan hal seperti ini. Bagaimana kalian mungkin mengatasi masalah jika kalian langsung lari saat terjadi sesuatu?” kata Azka lantang.

Bersambung minggu depan...


Selasa, 29 Januari 2013

Cerita Baroe


Tersasar
Karya     : Muhammad Al-Faruq Habiburrahman
Pada suatu sore yang panas dan terik, aku berjalan ke arah perempatan untuk menunggu angkot yang biasa lewat situ. Karena aku pulang agak telat dari biasanya, aku pulang sendiri tanpa teman-teman yang biasa pulang dengan ku. Akupun menaiki angkot dengan rute biasanya. Sampai royal aku menunggu angkot dengan bosan, ingin rasanya aku meloncat ke rumah dan langsung tidur di kasur. Tak lama kemudian angkotpun datang dan menghampiriku. “Mau kemana mas?” kata si sorpi angkot. “Ke Cijawa gak?” Kata ku. Si sopir hanya mengangguk, akupun langsung naik saja ke dalam.
Di dalam angkot aku menunggu sampai tujuan sambil membaca buku novel yang aku bawa dari rumah. Tanpa aku sadari angkot yang kunaiki sudah pindah dari jalur yang seharusnya ia lewati. Jika biasanya aku ke Cijawa, angkot yang kunaiki malah berbelok kanan yang ke arah cilegon. Aku terus membaca dan tidak menyadari itu.
Sampai di suatu tempat aku melihat sedikit ke luar untuk memastikan sudah sampai di mana. Aku terperanjat ketika melihat sebuah indomaret yang bertuliskan kramat watu. Aku pun langsung minta di turunkan dan protes ke si sopir. Si sopir bilang “tadi mas bilang mau ke Cilegon bukan?” aku pun langsung lemas. Aku turun tanpa di pungut biaya sepeserpun. Sekarang aku bingung ingin melakukan apa. Aku tidak bawa hand phone karena dilarang di sekolah, mau naik ojek tapi biayanya terlalu mahal dan di rumah belum tentu ada uang untuk membayarnya. Aku hanya bertanya pada si mamang ojek. “Mang kalau mau ke Cijawa dari sini naik apa?” kata ku. “Oh, mas mau ke Warung Pojok? Kalau dari sini naik ojek aja, lima belas juga bias. Kalau mau naik angkot biasanya jarang.”
Azan pun berbunyi, sudah maghrib dan aku belum sampai ke rumah. Akupun memutuskan untuk salat terlebih dahulu. Akupun berdoa agar diberikan jalan untuk kembali ke rumah dengan selamat. Pasca salat, aku hanya duduk sambikl merenung. Aku berpikir, jika ada angkot dari royal ke sini, berarti seharusnya ada juga yang dari sini ke royal. Akupun bangkit dan mencoba bertanya ke mamang ojek yang tadi “mang kalau ke royal ada nggak?” kata ku. “Banyak kok, tungguin aja.” Akupun menunggu angkot lewat. Ketika ada sebuah angkot aku langsung bertanya, “mang, royal?” langsung dijawab “yuk, naik!” aku pun naik ke angkot tersebut. Jam enam lewat aku baru mulai menuju rumah.
Ketika di tengah jalan, tiba-tiba si sopir meminta yang ke royal agar pindah ke angkot sebelah, ia pun meyakinkan bahwa tidak di pungut biaya. Akupun pindah ke angkot sebelah yang sudah terparkir manis di depan papan bertuliskan dilarang berhenti di sini. Akupun naik saja dan angkotpun langsung melaju dengan kencang. Sesampai royal aku langsung menunggu angkot jurusan Cijawa. Aku tidak mau kejadian barusan terulang lagi, jadi aku menunggu hingga mamang angkotnya berkata iya sebelum naik.
Aku sampai di Cijawa jam tujuh, saat azan isya berkumandang. Karena sudah malam, aku memilih untuk naik ojek agar lebih cepat. Berutung sepanjang siang tadi tidak hujan. Jika hujan pasti aku sudah kedinginan. Sampai di rumah aku langsung mandi dan makan. Setelah itu aku langsung melayang ke pulau kapuk di kasurku yang empuk.

Sabtu, 26 Januari 2013

Cerita Horror6


School Ghost part6
Karya  : Muhammad Al-faruq Habiburrahman
“Kalian sepertinya asik sendiri apakah kalian menemukan sesuatu yang menarik?” kata Zaki sang ketua kelas.
“Oh iya, kami berbicara dengan seseorang yang bernama Anida tadi.” Jawab Nia.
“Seseorang?” kata Zaki agak bingung.
“Ya, tadi ada seorang gadis yang rambutnya dikuncir dua.” Kata Fita sambil menggenggamkan tangannya di samping kedua telinganya.
“Aku tidak melihatnya. Aku hanya melihat kalian berdua sedang berbicara berdua sambil melihat tembok di depan kalian.” Kata Azka.
“Tadi kami bertiga kok.” Kata Nia membantah.
“Iya, tadi kami bersama gadis yang rambutnya dikuncir dua.” Tambah Fita.
“Faktanya kami tidak melihat apapun yang bersama kalian.” Kata Azka lagi.
“Mungkin kalian melihatnya setelah gadis itu pergi.” Kata Nia masih tak percaya kalau yang tadi bersamanya itu tidak terlihat oleh Azka dan kawan-kawan.
“Memangnya kau piker lorong ini sependek apa? Dari ujung sana hingga ke sini butuh waktu yang agak lama.” Kata Faruq.
“Sejak tadi kami hanya melihat kalian berbicara berdua.” Tambah Zaki.
“Eh, lalu…” kata Nia sambil menatap Fita.
“Jangan-jangan Anida itu…” kata Fita.
“Hantu!” teriak Fita dan Nia bersamaan.
“Sudah! Hah, kalian memang berisik. Yang penting apa yang yang dilakukannya disini?” kata Faruq.
“Katanya ia sedang menuggu seseorang yang biasa lewat sini. Ia juga bilang kalau ia sangat menyukai orang itu.” Jelas Nia.
“Hmm, sekarang aku berdo’a agar orang yang dimaksud itu bukan aku.” Kata Azka.
“Itu tidak mungkin, aku sudah bilang bukan kalau Anida itu seorang perempuan. Mana mungkin ia menyukaimu?” kata Fita.
“Siapa tahu…” kata Azka watados.
“Hmm, aku dengar kisah seorang kelas VIII A yang meninggal sebelum sempat menyatakan rasa sukanya kepada orang yang ia sukai.” Kata Faruq.
“Mungkinkah itu dia?” tanya Azka.
“Aku ingin bertanya, apakah warna rambutnya itu pirang?” tanya Zaki.
“Bagaimana kau tahu kalau rambutnya itu berwarna pirang?” kata Nia balik bertanya.
“Aku melihat album foto yang berisi foto-foto para alumni,” kata Zaki.
“Angkatan berapa album itu?” tanya Nia. Fita sedang terdiam, ia sedang memikirkan sesuatu.
“Dia angkatan nomor 16, sedangkan kita angkatan 21. Mungkin dia menyukai teman seangkatannya. Harusnya ada nomor teleponnya di buku kenangan alumni.” Kata Zaki.
“Satu masalah, siapa orang yang dimaksud itu?” tanya Faruq tiba-tiba.
“Berpikir keras selalu membuatklu lapar. Apa ada yang membawa makanan?” tanya Fita sambil memegangi perutnya yang sudah berbunyi, tanda minta diisi perutnya.
“Mungkin kau ada benarnya. Aku tidak membawa bekal makanan.” Kata Zaki ikutan lapar.
“Jika kalian semua lapar, aku punya ide.” Kata Faruq.
“Apa?” kata Azka, Nia, Fia dan Zaki secara bersamaan.
“Diantara kita berlima, rumahkulah yang paling dekat dari sini. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo kita ke rumahku.” Kata Faruq sambil beranjak pergi.
“Kami ikut!” kata Azka, Fita, Nia, dan Zaki secara bersamaan lagi. Merekapun pergi ke rumah Faruq. Rumahnya dekat dari sekolah. Dapat ditempuh dengan berjalan kaki.
Sesampainya di rumah Faruq, mereka langsung masuk ke dalam kamarnya Faruq sambil menuggu makanan.
“Bu, tolong bawakan makanannya ke kamar ya!” kata Faruq sedikit keras.
“Siap, berapa orang? Satu… dua… tiga…” kata ibunya Faruq yang baik hati. Beberapa menit kemudian makanan siap untuk dimakan. Tapi ada sesuatu yang janggal.
“Bu, kok ada enam, kita kan hanya berlima?” tanya Faruq setelah hidangan siap untuk disantap.
“Apa ibu mau ikut makan bersama kami?” tanya Azka.
“Eh, tadi ada enam kok. Ada seseorang yang rambutnya dikuncir dua. Apa dia sudah pulang?” kata ibunya Faruq sambil menghitung kembali jumlah anak-anak yang berkunjung ke rumahnya. Faruq dan kawan-kawan pun terkejut mendengar jawaban ibunya Faruq.
“Mungkin hanya salah lihat.” Tambah ibu Faruq.
“Kata semua anak-anak yang ada di kamar Faruq saat itu.

Bersambung minggu depan...


Minggu, 20 Januari 2013

Cerita Horror Part Extra2


School Ghost part:extra
Karya  : Muhammad Al-faruq Habiburrahman


KB            :Waduh kerjaan banyak banget, ada pr sekolah, pr cerita, pr yang sebenarnya (Bener-bener pekerjaan rumah). Untung aku punya temen-temen yang baik dan banyak mengispirasiku.
MRB        :Hah, sok sibuk kau!
KB            :Terserah saya dong!
MRB        :Sapa aja tuh temenmu yang disebut baik?
KB            :Mau tau? Iya mau tau?
MRB        :Iya udah cepetan.
KB            :Kesel iya kesel? Kasih tau gak ya?
MRB        :Kasih tau gak, kalau gak saya bunuh kamu!
KB            :Sok silakan saya gak takut!
MRB        :Awas ya!
KB            :Iya!
MRB        :*NGEJAR SI KB
KB            :Takut ada gajah ngamuk!
MRB        :Udah ah, cepetan siapa!
KB            :Yaudah, thank you very much to kedua orang tuaku yang baik hati, allah dan rasulnya, temen-temenku yang tak kalah baik hatinya: Haikal teman sebangkuku, Dimas teman ngobrolku, Kresna temen ngobrol ku juga, RW temen yang sering aku jailin, Fadli adek kelas yang sering menemaniku, Faruq untuk inspirasi kata-kata yang dimuat dalam cerita ini, Nadhira adek kelas yang sering ku traktir, juga untuk kamu yang memberikan inspirasi untuk membuat cerita ini.
KB            :Cerita ini berdasarkan kejadian nyata yang gak pernah kualami. Tapi jangan pernah anggap ini nyata. Ini hanya cerita belaka. Kau tahu kenapa? Karena aku tidak mau mengisahkan kisah nyata. Ingin tahu alasannya? Karena aku tidak mau menuliskannya. Ingin tahu kenapa? Karena jawaban dari pertanyaan kenapa pasti karena.
MRB        :Apaan tuh maksudnya?
KB            :Garink? Biarin, yang penting hepi.
MRB        :APA APAAN COBA?
KB            :Pengen tahu maksudnya?
MRB        :Udah ah! Gak lucu tau!
KB            :Saya juga gak tau, Tanya aja sama yang nulis.
MRB        :Bukannya kamu yang nulis?
KB            :Bukan, bukannya kamu?
MRB        :Entah, pengen tahu siapa?
KB            :Udah woy!
MRB        :Nape kau?
KB            :Pengen tahu kenapa?
MRB        :Mati…
KB            :Yah udah sign out. Yasudah kalau begitu bagi para pembaca dapat mengunjungi penulis di AlfaruqHabiburrahman juga Marco Rogest Bachman.
MRB        :Ada ayam pergi berlabuh
                   Ada kambing sersenang-senang
                   Kami datang dari jauh
                   Untuk membuat hati tuan girang
KB            :Silakan menikmati, part ke enam dapat di baca minggu depan. Selamat bersekolah kembail bagi yang bersekolah, selamat berkerja kembali bagi yang kerja.
MRB        :Mohon maaf jika ada kemiripan nama dalam edisi special kali ini, mungkin itu adalah sebuah kesengajaan. Sekali lagi terimakasih telah membantuku, meskipun mungkin tidak tahu telah membantu apa.
KB            :Bagi yang berkenan tolong sebar luaskan blog saya ya. Terimakasih, hontouni arigatou, thank you very much, syukron, xie xie.

Sabtu, 19 Januari 2013

Cerita Horror5


School Ghost part5
Karya  : Muhammad Al-faruq Habiburrahman
Sedangkan itu di sisi lain Nia dan Fita sedang berjalan menuju koridor. Mereka mencari informasi yang berupa benda-benda di sekolah. Tampak dari kejauhan oleh mereka seorang gadis yang cantik dari kejauhan. Dia sedang berdiri mematung di lorong yang gelap.
“Hey, apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Nia dengan suara agak keras.
“Eh, anu… saya sedang menunggu seseorang yang biasa lewat sini.” Kata si gadis itu.
“Oh, begitu. Ini Nia temanku maaf kalau kami membuatmu terkejut tadi. Aku Fita, kami berdua dari kelas VII F.” kata Fita sambil menahan Nia yang henda berbicara.
“Saya Anida kelas VIII A, salam kenal!” seru gadis yang mengaku bernama Anida itu.
“Salam kenal juga!” kata Nia dan Fita kompak. Mereka pun sedikit berbincang-bincang. Di sisi lain lagi di sekolah, Faruq, Azka, dan Zaki sedang kesana kemari mencari Nia dan Fita.
“Uh, kemana ya mereka?” kata Azka mengeluh.
“Semua tempat sudah kita kunjungi.” Kata Zaki sambil mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
“Mungkin sudah semua tempat biasa disekolah ini. Tapi masih ada sebuah tempat rahasia.” Kata Faruq sambil sedikit tersenyum.
“Hmm, oh! Iya, masih ada sebuah tempat lagi yang belum kita kunjungi!” seru Azka menyusul.
“Ayo cepat kita pergi ke temapt yang belum kita kunjungi itu!” Kata Zaki.
“Memangnya kamu tahu tempat itu di mana?” Tanya Azka kepada Zaki dengan nada meledek.
“Ya, kan kalian akan pergi bersamaku ke tempet tersebut.” Kata Zaki sambil senyum-senyum.
“Yee, yasudah ayo pergi.” Kata Azka lagi.
Faruq, Azka, dan Zaki pun pergi ke lorong yang dipunggungi oleh nyaris semua kelas di sekolah. Bisa dibilang kalau ini tempat rahasia. Di lain tempat Nia dan Fita sedang mengobrol dengan gadis misterius yang bernama Anida.
“Hey Anida, apa kau selalu menunggu orang itu setiap hari?” Tanya Fita kepada Anida.
“Tentu saja aku selalu menunggunya!” jawab Anida.
“Kenapa kau menunggunya?” Tanya Nia kali ini.
“Karena aku sangat mencintnya.” Jawab Anida. Suasana menjadi hening saat Anida menjawab pertanyaan dari Nia tadi.
“Sepertinya dia tidak lewat sini sore ini.” Kata Anida sambil sedikit murung.
“Mungkin dia ingin langsung pulang ke rumah.” Tebak Fita.
“Ya, mungkin besok kau bisa bertemu dan mengobrol dengannya.” Tambah Nia.
“Tidak!” seru Anida agak keras, Nia dan Fita pun sampai kaget karenanya.
“Eh, kenapa?” Tanya Fita lagi.
“Dia pasti lewat sini setiap hari! Pasti!” kata Anida sambil menangis dan langsung berlari meninggalkan Fita dan Nia.
“Tu… tunggu, kami tidak bermaksud…” kata Nia terputus karena Anida sudah tidak terlihat lagi.
“Sudahlah, orangnya sudah pergi jauh.” Kata Fita sambil menepuk-nepuk pundak Nia.
“Fita! Nia!” teriak Azka sambil menuju tempat mereka berdua.
“Azka, Faruq, Zaki, bagaimana bisa kalian tau kalau kami di sini?” Tanya Nia.
“Hah, kami sudah mencarimu kemana-mana, akhirnya ketemu di sini.” Kata faruq menjelaskan.

Bersambung minggu depan...


Selasa, 15 Januari 2013

Cerita Horror4


School Ghost part4
Karya  : Muhammad Al-faruq Habiburrahman
Mereka pun memulai aksinya. Langkah pertama yang mereka ambil? Tentu saja mencari informasi sebanyak-banyaknya. Zaki ketua kelas, kelas VII F akan mewawancarai seorang dewan guru. Target pertamanya adalah sang wali kelas, bu Reni.
“Bu, saya dengar ibu adalah guru senior disini. Jadi  mungkin ibu tau bagaimana sekolah ini dibentuk dan didirikan?” Tanya Zaki memulai pembicaraan.
“Oh, tentu saja ibu tahu tentang itu.” Kata bu Reni dan dilanjutkan dengan ceritanya tentang asal muasal berdirinya sekolah ini.
Kak Hamdi tau sesuatu gak tentang cerita hantu disekolah ini.” Tanya Faruq.
“Hmm, ada sebuah ceirta yang kakak tau. Cerita ini entah nyata atau tidak, yang pasti kakak mendengarnya dari seniorkakak waktu itu.” Jawab kak Hamdi.
“Baiklah, bisakah saya mendengar cerita tersebut?” Tanya Faruq lagi, memohon.
“Waktu itu beberapa angkatan sebelum kakak ada seorang gadis kelas VII A yang sangat menyukai seseorang. Sayangnya ia sangat pemalu, sampai-sampai ia tidak berani mengatakan rasa sukanya itu. Hingga suatu hari ia melihat orang yang disukainya disebrang jalan sekolah. Saat itu ia berniat  untuk memberanikan dirinya dan mengatakan rasa sukanya.. saying, ia tak punya cukup keberanian dan berhenti di tengah jalan raya. Tanpa gadis itu sadari, sebuah mobil melaju dengan kecepatan yang kencang. Gadis itupun tertabrak dan tewas ditempat. Dan menurut rumor yang beredar arwahnya masih menunggu untuk menyatakan rasa cintanya.” Cerita Hamdi kepada Faruq.
“Apakah sumber cerita itu terpercaya?” Tanya Faruq.
“Entah lah, tapi menurutku itu bukan sebuah kebohongan atau hanya cerita fiksi. Itu sebuah kebenaran.”  Kata Hamdi.
“Baiklah terimakasih atas infonya.” Kata Faruq dan Azka yang sedari tidak mengatakan sebuah katapun. Merekapun pergi mencari yang lainnya.

Bersambung minggu depan...

Senin, 17 Desember 2012

Cerita Horror Part Extra


School Gost Biodata
Karya  : Muhammad Al-faruq Habiburrahman
 ê  Nama : Faruq         Nama Lengkap : Muhammad Al-faruq
Kelas : VII F            TTL : 05 February 1998 Jenis Kelamin : Laki-laki
Kesukaan : Menyendiri sambil baca buku. Wakes : Hitam, MaMiKes : Nasgor seafood & jus sirsak
Motto : People Become Fool When They Stop Asking Question (Kakaknya Azka)
 ê  Nama : Fita             Nama Lengkap : Lamfita Sekar
Kelas : VII F            TTL : 12 July 1998 Jenis Kelamin : Perempuan
Kesukaan : Ngobrol-ngobrol dikelas sambil ngegosipin orang. Wakes : Hijau Muda MaMiKes: Sate & RB
Motto : Barangsiapa yang menanam duri tidak akan mengetam anggur (Teman Nia)
 ê  Nama : Zaki            Nama Lengkap : Hafizh Zaki Al-hasan
Kelas : VII F            TTL : 23 October 1998 Jenis Kelamin : Laki-laki
Kesukaan : Apapun yang terlihat rapih. Wakes : Biru Nila MaMiKes : Sop Iga & Susu
Motto : Sangat mudah melakukan sesuatu, sangat sulit mengembalikannya (Ketua Kelas)
 ê  Nama : Azka           Nama Lengkap : Azka Nurul Syifa
Kelas : VII F            TTL : 15 December 1998 Jenis Kelamin : Perempuan
Kesukaan : Yang manis-manis termasuk juga kakakku. Wakes : Ungu MaMiKes : Apapun itu asalkan manis
Motto : Tiada hari tanpa belajar dan bermain dan makan dan lain-lain (Adiknya Faruq)
 ê  Nama : Nia             Nama Lengkap : Nia Sekar
Kelas : VII F            TTL : 7 Mei 19998 Jenis Kelamin : Perempuan
Kesukaan : Makanan yang enak dan lezat. Wakes : Orange MaMiKes : Burger & Jus Alpuket
Motto : Where There is a Will There is a Way (Temen Fita)

Bersambung Minggu Depan...

Senin, 10 Desember 2012

Cerita Horror3


School Ghost part3
Karya  : Muhammad Al-faruq Habiburrahman
“Fita, Nia terimakasih telah membersihkan kelas kita kemarin.” Kata Zaki sang ketua kelas ketika Fita dan Nia baru saja masuk ke dalam kelas.
“Ya, sama-sama. Ngomong-ngomong di mana Ezra, aku tidak melihatnya?” kata Fita.
“Ezra sedang pergi ke Lombok untuk menengok neneknya yang sedang sakit.” Jawab Azka sambil menghampiri Nia dan Fita.
“Oh begitu, pantas kemarin ia…” kata Fita terputus lalu menatap Nia.
“Gak mungkinlah, kapan Ezra berangkat?” Tanya Nia yang sejak tadi hanya diam.
“Sepulang sekolah kemarin ia langsung ke bandara, makanya ia izin untuk tidak piket.” Jelas Azka.
“Eh, lalu yang itu siapa?” Tanya Nia kepada Fita.
“Mungkinkah, hantu!” teriak Nia dan Fita sambil berpelukan.
“Tunggu-tunggu, apa-apaan kalian ini? Hari baru saja dimulai, kelas sudah siap untuk dipakai, lalu kalian datang kemari dan berteriak hantu! Apa maksudnya?” kata Faruq yang sedari tadi hanya membaca bukunya, ia terdengar marah.
“Tidak ada apa-apa kok. Se… semuanya kami mi… mi minta maaf ka… ka… lau kami mengganggu kalian dengan keributan yang kami buat.” Kata Nia terbata-bata, setelah itu ia langsung menarik Fita keluar dari kelas. Di luar kelas, tepatnya di lorong kelas VII F yang sedikit gelap karena berada di antara dua buah gedung yang menjulang.
“Nia lepaskan aku bisa berjalan sendiri!” omel Fita.
“Maaf tentang itu. Begini, aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Azka bias saja mendapatkan informasi yang salah dan ternyata Ezra pergi setelah pulang dari les.” Kata Nia sambil mengatur napasnya yang masih tersenggal-senggal.
“Oh, iya ada yang mau aku katakana padamu kemarin, tetapi aku masih takut hingga tidak sempat berdebat denganmu.” Kata Fita dengan nada kesal.
“Apa itu Fit?” Tanya Nia.
“Apa kau lupa? Saat pulang sekolah itulah bel terakhir yang kau dengar pada hari itu, kauy tahu kenapa?” kata Fita balik bertanya.
“Hmm, karena ketika bel pulang sekolah saklar belnya pasti otomatis padam.” Tebak Nia.
“Tepat, lalu siapa yang menyalakan sakelarnya lagi hingga belnya berbunyi?” Tanya FIta lagi.
“Aku tidak tahu” jawab Nia singkat.
“Dalam hal ini ada dua kemungkinana yang terjadi di sini.” Kata Fita dengan nada sok dektektif.
“Apapun itu yang satu pasti buruk.” Kata Nia.
“Yang pertama, ada sekelompok orang yang ingin menjahili kita.  Yang kedua, yaitu benar rumor yang kau bicarakan denganku.” Jelas Fita panjang lebar.
“Aku tahu, kita harus menyelidikinya.” Kata Nia.
Pelajaran pun mulai seperti biasa, dan hari pun berlalu seperti biasa. Tidak ada yang laur biasa siang itu. Di dalam kelas saat istirahat, terlihat  Nia yang mengajak teman-teman sekelasnya yang mau ikut bergabung untuk menyelidiki kejadian aneh yang ia alami.
“Aku tidak mau ikut campur dengan urusan yang seperti itu.” Kata Azka menolak mentah-mentah.
“Hoo, jangan-jangan kau takut dengan hantu itu ya? Aku ikut!” kata Zaki si ketua kelas.
“Tenang saja, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu di belakang, aku juga ikut!” Kata Faruq.
“Bagaimanapun juga, mencari informasi adalah prioritas kita sekarang.” Kata Zaki lagi.
“Baiklah, aku akan bertanya pada kakak kelas yang mungkin tahu akan hal ini.” Kata Faruq sambil beranjak pergi meninggalkan tempatnya tadi.
“Aku ikut kak Faruq saja.” Kata Azka.
“Ya sudah, kita berlima akan pergi mencoba mencari informasi mengenai sekolah ini. Apapun itu jangan sampai ada yang tertinggal.” Kata Fita member semangat.
“Zaki, karena kau sering berinteraksi dengan guru, coba kau tanyakan pada mereka tebtang ini. Lalau yang lain bias ikut atau mencari informasi dari mana pun itu.” Kata Faruq menjelaskan strateginya.
Ayo kita lakukan!” teriak Zaki.

Bersambung Minggu Depan...