selamat hari raya idul fitri 1433 H, minal aidzin wal faizin mohon maaf lahir dan batin. (admin dan keluarganya)
Selasa, 21 Agustus 2012
Rabu, 15 Agustus 2012
Kisah Berhikmah Lagi
Bergantung Pada Tanganmu
Pada suatu hari hiduplah seorang tua yang bijak di sebuah puncak bukit yang tinggi. Menurut kabar yang tersebar ia dapat menjawab pertanyaan apapun dengan baik. Ada dua orang pemuda yang tinggal di daerah setempat yang ingin menjebaknya. Mereka menangkap seekor burung untuk dibawa kepada pak tua yang bijak tersebut. Sesampainya di hadapan pak tua tersebut, mereka mengajukan pertanyaan sambil menyembunyikan burung tadi di belakang punggung mereka. "Hai pak tua apakah kau dapat menjawab pertanyaanku?" tanyanya. Pak tua yang bijak itu hanya tersenyum membalas pertanyaan pemuda tadi. "Dapatkan engkau mengatakan apakah burung di tanganku ini masih hidup ataukan sudah mati?"
Pak tua menatap kedua wajah pemuda tersebut dengan lembut. Lalu dengan suara tegas ia berkata, "wahai anak muda jika aku mengatakan burung itu masih hidup, maka engkau akan meremukannya dengan tanganmu hingga mati. Namun jika aku mengatakan burung itu sudah mati, maka engkau akan melonggarkan tanganmu dan membiarkan burung itu terbang." Lanjutnya, "wahai anakku, di tanganmu engkau memegang kuasa kehidupan dan kematian. Dan itu adalah tanggung jawab yang maha besar."
Kedua pemuda itu terkejut dan menatap satu sama lain dalam kekaguman yang luar biasa. Orang tua ini sungguh bijaksana, pikir mereka. Mereka tidak berhasil membodohinya sedikitpun.
Kemudian pak tua itu menasehati, "wahai anak muda, di tanganmu tersimpan potensi keberhasilan yang besar dan juga kegagalan. Tanganmu sangat mampu melakukan itu, seperti kemampuan mematikan dan membiarkan hidup burung itu. Engkau memilikitanggung jawab yang besar terhadap keberhasilan hidup kalian kelak. Maka gunakanlah tanganmu untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut."
Kedua anak muda itu akhirnya turun dari bukit dengan gembira. Mereka melepaskan dan memandangi terbangnya burung dengan keceriaan. Mereka meyakini, masa depan mereka ada dalam diri mereka sendiri. Masa depan ada pada tangan kita bukan siapa siapa.
kisah berhikmah
Oleh: Habiburrahman
Pada suatu hari ada seorang pemuda pendeta yang sedang
mencukur rambutnya di sebuah tempat cukur. Mereka berbincang bincang tentang
selama sang tukang cukur itu mencukur rambutnya. “Apakah kau percaya kepada
tuhan?” Tanya si tukang cukur kepada
pemuda pendeta tersebut. “Ya tentu saja saya percaya kepada tuhan, bagaimana
dengan anda?” kata sang pendeta menanggapi pertanyaan si tukang cukur. “Saya
tidak percaya kepada tuhan” kata si tukang cukur dengan entengnya. “Mengapa? Bukankah
tuhan sudah banyak menunjukan kekuasaannya di bumi ini?” Tanya
sang pendeta dengan sabar menanggapi pernyataan si tukang cukur. “Kalau memang
tuhan itu ada mengapa masih ada orang yang hidupnya susah dan tidak
menyenangkan? Kenapa tuhan masih menelantarkan mereka jika memang tuhan itu
ada? Bukankah tuhan itu maha pengasih?” jawab si tukang cukur yang membuat sang
pendeta terdiam. Sang pendeta pun berpikir, kenapa tuhan itu tidak mengasihi
mereka padahal tuhan itu maha pengasih? Apakah perkaan orag ini benar bahwa
tuhan itu tidak ada?
Sang
pendeta tersebut keluar dari tempat cukur ketika ia selesai bercukur. Imannya mulai
goyang ketika mendengar pernyataan dari si tukang cukur tadi. Ia pun berjalan
menuju rumahnya sambil berpikir. Di tengah
jalan ia bertemu dengan seseorang yang rambutnya gondrong dan berantakan, sang
pendeta itupun mendapatkan ide cemerlang. Sang pendeta tersebut pun bergegas
kembali kepada si tukang cukur untuk memberikan jawaban yang baru saja ia
temukan.
Pendeta
itu masuk ke dalam tempat cukur tadi dan berkata “saya tidak percaya tukang
cukur itu ada.” Mendengar perkataan pendeta tersebut sontak si tukang cukur itu
tertawa terbahak bahak. “Hahaha, apa yang membuatmu dapat berkata seperti itu? Kamu
dapat melihat dengan mata kepalamu sendiri kalau aku ini tukang cukur.” “Kalau
memang ada tukang cukur di dunia ini, kenapa masih ada orang yang memiliki
rambut panjang dan berantakan? Seperti orang itu,” tanya
sang pendeta sambil menunjuk jendela. Laki laki yang tadi sang pendeta lewat,
si tukang cukur pun kaget dan berkata “dia saja yang tidak dating kemari dan
mencukur rambutnya, kalau saja ia melakukan itu pasti ia tidakakan seberantakan
itu.” “Begitu pula dengan tuhan ia akan menolong kamu jika kamu meminta
kepadanya. Tetapi ketika kau tidak meminta kau tidak aka ada yang menolong.” Kata
sang pendeta menerangkan.
Senin, 13 Agustus 2012
Cerita Bersambung
MISTERI DIMENSI WAKTU
KARYA: MUHAMMAD AL-FARUQ HABIBURRAHMAN
“Byar... byar,” ledakan demi ledakan diluncurkan untuk
menghalang halangi para siswa yang mengikuti ujian simulasi misi pertama
mereka. Ya ini adalah hari pertama Rogest Ricard Bachman atau yang biasa
disebut Cardy, Ricko Roxie Bachman alias Coro, dan Alexander Leonardo Bachman
alias Alex masuk ke dalam sekolah tinggi pertama Elux. Diujian pertama mereka,
mereka harus menghadapi sebuah robot penghancur yang lumayan hebat. Robot itu
dilengkapi dengan peluncur misil, senapan mesin, bom bom yang tidak terlalu membahayakan,
dan pisau pisau yang tajam. Cardy yang dikelompokan bersama saudara saudaranya
yaitu Coro dan Alex bersama seorang gadis cantik yang bernama Kate, sampai
kewalahan mengahadapi sebuah robot kecil itu. Mereka hanya dibekali dengan
pistol laser, baju anti radiasi, tali, beberapa granat, dan sepatu roket.
“Hoi Kate, berhentilah menghabiskan granat kita!” kata
Coro yang sejak tadi memerhatikan Kate yang terus menerus melemparkan granat.
“Kau tidak tau apa apa diam saja,” balas Kate ketus.
Cardy berusaha melerai mereka ditengah tekanan robot penghancur yang sejak tadi
terus menerus menembak mereka.
“Sudah hentikan kita ini kelompok, jangan bertengkar.
Coro berhentilah berbicara dan pikirkan cara untuk menghancurkan robot ini.
Kate, Coro benar jangan terlalu banyak melemparkan granat granat yang kita
miliki!” Akhirnya Coro dan Kate berhenti juga, Alex tidak terlalu peduli dengan
pertengkaran Kate dan Coro. Walaupun sudah Cardy pisahkan tetapi Coro diam diam
mematikan sepatu roket Kate yang sedang asyik asyiknya membuang buang granat.
“kyaa...” teriak Kate yang terjatuh kebawah, sialnya tepat dibawah Kate adalah
pisau pisau robot penghancur yang siap mencincang tubuhnya. “Rasakan, itu
adalah pembalasan dariku” kata Coro. “Kate!” kata Cardy. Tiba tiba Alex
menyambar Kate dengan cepat dan membawanya menjauh dari robot penghancur itu.
“Hoi Coro walaupun kau sedang bertengkar dengannya dia
itu tetap teman satu tim kita tahu” kata Alex yang sedari tadi diam saja. “anak
kecil diam saja kau ini urusan orang dewasa.” Jawab Coro dengan nada kasar.
“Aku sudah 13 tahun tahu, lagi pula umur kita tidak terlalu jauh berbeda.”
“Diam kalian, Coro jangan mulai lagi.” Kata Cardy melerai Alex dan Coro yang
bertengkar. “Ini salah kau hingga aku nyaris jatuh ke robot itu untung Alex
berhasil menyelamatkanku. Kalau tidak ada Alex, kau akan ku kutuk seumur
hidumu.” Kata Kate yang sudah tenang. “Coba saja kalau bisa!” kata Coro sambil
terbang menjauh dari Kate. “Awas kau ya,” kata Kate yang mengejar Coro. Cardy
yang merasa bosan terus menerus melerai pertikaian hanya memperhatikan apa yang
Coro dan Kate lakukan, sama halnya dengan Alex.
Tiba tiba sesuatu yang aneh terjadi, Cardy merasa mual,
pusing, dan lemas. Dia merasa seperti tersedot kedalam dimensi waktu. Seketika
Cardy lenyap tertelan dimensi. “Cardy!” teriak semua orang. “Hentikan! Hentikan
simulasi sekarang juga!” kata pak Ricard ketua pelaksana simulasi ini.
“Cardy, Cardy, Cardy...” suara yang misterius memanggil
manggil Cardy.
“Siapa disana!” seru Cardy yang masih setengah sadar
kaget mendengar suara itu.
“Apa ini? Ini adalah Cardy, Coro! Alex! Kate! Apa yang
teejadi? Dimana kita?” teriak Cardy memanggil teman seregunya yang tidak
memperhatikannya.
“Hoi Alex, semuanya! Bisakah kalian mendengarku?” lanjut
Cardy. Coro dan yang lain terlihat sama dengan terakhir kali Cardy bersama
mereka. Kejadian selanjutnya tentu saja Kate yang mengejar Coro lalu Cardy masa
lalu dan Alex yang diam saja dan tidak memperhatikan robot penghancur yang diam
– diam mengincar Kate dan Coro.
“Kate, Coro awas” Cardy berusaha menjadikan tubuhnya
sebagai perisai agar misil yang ditembakan robot penghancur tidak mengenai Coro
dan Kate. Tetapi misilnya malah menembus tubuh Cardy.
“Coro, Kate, awas!” seru Cardy yang melihat misil itu
mengenai Coro dan Kate. Cardy masa lalu hanya bisa melihat dan menyesali,
kenapa ia tidak cepat cepat melerai mereka. Kalau ia lebih siaga ini tidak akan
terjadi. Begitu pula dengan Alex. Tiba tiba semua itu berhenti, benar benar
berhenti. Cardy menjadi bingung apa yang harus dia lakukan, ini adalah pertama
kalinay ia berada dalam dimensi waktu. Tiba tiba tertulis sesuatu di udara. Itu
seperti pesan, seperti inilah isinya.
Apakah kau sudah lihat takdirmu? Kau akan menyesal
selamanya jika kau membiarkan itu terjadi. Akan ku beri tahukan kaalau robot
itu sedang dikendalikan oleh sky drive, karena itu dia menembak kearah Coro dan
Kate. Aku memberikanmu kesempatan kedua gunakanlah sebaik baiknya.
Cardy dibawa kembali kemasa lalu, ia dating ke masa
dimana Coro sedang mematikan sepatu roket Kate.
“Hentikan! Kalau kau melakukannya kita semua akan mati!”
seru Cardy kepada Coro.
“Dari mana kau tau? Apa yang terjadi pada mu, Cardy?”
Tanya Alex, Coro, dan Kate. Nampaknya pak Ricard juga mendengar seluruh
kebisingan itu. Ia lalu turun tangan dan menonaktifkan system simulasi. Cardy
dibawa ke ruang guru untuk dimintai keterangan.
“Cardy dari mana kau tahu kalau kalian akan mati jika
saja Coro mematikan sepatu roket Kate? Jawab aku!” Tanya pak Richard sedikit
kasar.
“Eh, i… itu haa… nya pe… pe perasaanku saja,” jawab Cardy
terbata bata.
“Bohong! Aku tidak percaya. Jawab dengan jujur kenapa kau
bias tahu hal yang belum terjadi?” Tanya pak Richard lagi. Pak Richard
sebenarnya adalah guru yang baik tetapi ia hanya tidak mau ada muridnya yang
terluka, makanya ketika ada kasus seperti ini ia berubah menjadi sangat tegas.
“Be… benar aaaku tidak bohong” jawab Cardy lagi. Mendidih
sudah titik kesabaran pak Richard yang rendah itu. Ia langsung memeriksa saku
dan kantong kantong Cardy satu per satu. Tidak disangka pak Richard menemukan
sebuah alat yang bisa membawa seorang manusia kedalam dimensi waktu, alat itu
di sebut alat nogotrus.
“Jadi kau melihat masa depanmu dan mengulangnya, mungkin
aku berterima kasih kau sudah menyelamatkan jiwa Coro, tapi kau tahu benda ini
dilarang di sekolah Elux ini, jadi alat ini akan kusita selamanya. Mengerti?”
tukas pak Richard panjang lebar.
“Aku mengerti” jawab Cardy sedikit heran. Padahal ia
tidak membawa apa apa ketika simulasi.
“Apakah ini dari orang yang memanggilku waktu itu?” kata
Cardy dalam hati. Cardy keluar ruangan guru, ia berpas pasan dengan seorang
guru yang biasa dipanggil mrs. Cindy. Menurut kabar ia adalah wali kelas 1-1.
Kelas dimana Cardy, Coro, Alex, dan Kate berada.
“Siang Cardy, sepertinya kau sudah membuat beberapa
keributan sebelum sekolah berjalan efektif. Kalau kau tidak keberatan saya
ingin tahu bagaimana lengkapnya kejadian itu. Apakah kau keberatan?” kata mrs.
Cindy.
“hmm, tidak aku tidak keberatan.” Kata Cardy.
“Nah kalau kau tidak keberatan tolong ikuti saya.” Kata
mrs. Cindy lagi.
Cardy pun dibawa ke ruangan pribadi wali kelas yang
sangat rapih dan teratur. Di sana ada pak Schovelsky, wali kelas kelas 1-3.
“Siang pak Schovelsky, maaf sedikit mengganggu, ada
sedikit kasus yang harus saya tangani sekarang.” Sapa mrs. Cindy. Yang dibalas
hanya dengan senyum oleh pak Schovelsky.
“Sekarang kita mulai, tolong jawab sejujur jujurnya ya.
Apa yang sebenarnya terjadi saat itu?” tanya mrs. Cindy. Melihat mrs. Cindy
yang lembut dan baik itu akhirnya Cardy menceritakan apa yang waktu itu ia
alami secara lengkap tanpa dikurangi atau ditambahkan.
“Jika demikian kejadiannya, kau tidak bisa disebut
sebagai pelaku, bisa jadi kau adalah korban. Pokoknya serahkan ini kepada para
guru, kami yang akan menanganinya dengan serius. Dan untuk sementara bersikaplah
biasa kepada seluruh siswa ya.” Kata mrs. Cindy dengan nada yang agak serius.
Cardy pun kembali ke kamarnya yang baru dibereskan.
Walaupun tidak serapih ruang guru, kamarnya terlihat cukup rapih.
“Aku pulang,” kata Cardy sambil melihat lihat.
“Selamat datang” kata Coro dan Alex bersamaan. Mereka
tidak mau dipisah kamarnya, selalu bersama. Sebenarnya mereka adalah saudara
kembar, dari mereka semua Cardy adalah yang tertua. Ia sering dijuluki si
jenius. Yang kedua adalah Coro, ia sering dijuluki si lincah. Dan yang paling
muda adalah Alex dia biasa dijuluki si kuat. Walaupun kembar sifat mereka
sangat jauh berbeda. Cardy lebih bersikap dewasa, Coro lebih kekanak kanakan
dan egois, Alex lebih pendiam dari yang lain ia tidak suka keributan.
“Cardy apa yang mereka lakukqan kepadamu?” tanya Coro
ketika mereka makan malam.
“Tidak, meraka tidak melakukan apa apa kepadaku mereka
hanya bertanya kepadaku tentang apa yang terjadi pada saat aku masuk ke dimensi
waktu.” Terang Cardy.
“Syukurlah, tapi bagaimana kau bisa masuk ke dimensi
waktu?” sekarang giliran Alex yang berbicara.
“Aku juga tidak tahu, itu terjadi secara tiba tiba.
Ketika itu aku sedang melihat kau dan Kate yang saling kejar mengejar, lalu aku
merasa mual lalu pusing lalu aku tidak sadarkan diri. Saat aku sadar aku telah
berada dalam dimensi antar waktu. Setelah itu aku melihat sedikit masa depan
yang sedikit tidak menyenangkan. Aku melihat Coro dan Kate terkena misil yang
cukup berbahaya. Lalu aku melihat sebuah pesan yang melayang di dinding.” Kata
Cardy menceritakan apa yang terjadi.
“Apa pesannya?” kata Coro dan Alex bersamaan.
“Sudah jelaskan itu rahasia, bahkan untuk kalian yang
termasuk orang orang yang dekat dengan ku.” Jawab Cardy yang tidak mau
meluberkan apa pesan yang dia liahat.
“Yaah payah, sedikit saja, tidak perlu banyak banyak.”
Kata Coro dan Alex yang mencoba membujuk Cardy yang tetap tidak mau
menceritakan isi pesannya.
“Tidak” “permen” “tidak” “roti bakar” “tidak” “pizza”
“memangnya kita punya?” “eh, tidak ada ya, kalau begitu makan malamku untukmu” “kau sudah
menghabiskannya” “aku akan buat lagi” “hoi, Coro sejak kapan makanan buatanmu
menjadi lezat dimakan?” “kalau kau tidak mau tahu apa isi pesannya minggir saja
Alex” “oi kenapa malah kalian yang ribut?” “makanya kau harus memberi tahukan
kami apa isinya” “tidak, pokoknya tidak.”
“Yasudah kalau begitu aku akan memutuskan hubungan
denganmu.” Kata Coro dengan niat agar Cardy memberi tahu apa isi pesannya.
~BERSAMBUNG~
Sabtu, 11 Agustus 2012
Cerita Liburan
Liburan Ke Rumah NenekKarya: Muhammad Al-faruq Habiburrahman
Aku senang sekali, hari ini bapak dan ibuku mengajaku dan
mba oya jalan jalan ke rumah mbah uti. Kami bersiap siap menyiapkan semua
keperluan disana nanti. Sebelum kami
berangkat ke rumah mbah uti, kami berbelanja dulu di toko Adjie. Toko grosir
dan eceran pertama dan terdekat dari rumah kami. Di toko Adjie aku membeli
chiki, permen, dan coklat yang lumayan banyak. Saat tiba di mesin kasir, aku
melihat ada coklat yang sangat menarik perhatian aku. Tetapi sayang harganya
sangat mahal, “lain kali ya!” kata ibu. Aku kecewa karena tidak diizinkan
membeli coklat tersebut, tetapi aku juga senang karena kita akan segera
berangkat menuju rumah mbah uti. “kurelakan coklat lima senti itu untuk segera
ke rumah mbah uti, mbah tunggulah kedatanganku disana!” kataku dalam hati.
Aku sangat bersemangat untuk segera sampai ke rumah mbah
uti. Belum saja masuk desa, aku sudah dapat membayangkan apa yang akan
kulakukan disana nanti. Aku lihat mba oya sedang tidur pulas, air liurnya
sampai menets ke jok mobil. “Hii mba oya ngiler” kataku setengah berteriak,
spontan mba oya bangun dan langsung mengelap air liurnya. Aku bapak dan ibupun
menertawakannya. Aku kembali melanjutkan aktivitasku tadi, yaitu membayangkan
apa yang akan aku lakukan di desa nanti, mba oya meneruskan mimpinya yang tadi
sempat terpotong, ibu dan bapak kembali konsentrasi pada jalanan. Bapak yang
menyetir mobil carry rabits 1.5 warna silver milik keluarga kami, mobil kami
yang tersayang.
Mobilku berhenti di rest area km 105, tepatnya didepan
solaria. Aku terbangun begitu pula mba oya. Masih dalam kondisi setengah tidur
aku memeriksa mobil, kosong tidak ada siapa siapa kecuali kami berdua. Sudah
menjadi kebiasaan kami berdua yang mempunyai rasa ingin tahu yang sangat kuat
mengotak atik sesuatu yang menganggur, termasuk mobil ini. Kami yang masih
kecil, kira kira umur kami sekitar 7, dan 8 tahun. Ya, jarak umur kami hanya
satu setengah tahun. Aku memaikan dashboard, sedangkan mba oya duduk di kursi
pengemudi sambil memainkan setir mobil kami yang mengkilap, kami menyebut kursi
itu dengan nama kursi bapak, karena hampir setiap perjalanan bapaklah supirnya.
Tiba tiba terdengar suara klakson yang keras sekali “tiiin tiiin tiiin”
begitulah bunyinya. Kami segera mencari cari asal suara klakson terebut. Kami
melihat sekeliling, hanya ada satu mobil di sepanjang area parkir ini. Yaitu
mobil kami.
Sadar bahwa mobil yang sedang kami naiki adalah mobil
yang mengeluarkan suara klakson tersebut, aku dan mba oya panik. Aku langsung
pindah ke jok belakang mobil sambil menutup telingaku dan langsung disusul oleh
mba oya. “Bib gimana nih bib” tanya mba oya kepadaku.
Kami semakin panik. Secara tidak sengaja aku melihat
seorang polisi yang berbadan tinggi dan tegak. “mba oya mba oya,” kataku sambil
terus menatap polisi tersebut tanpa berkedip. “Apa sih?” kata mba oya sedikit
teriak karena suara klakson mobil. “Ada polisi lagilari ke sini,” “apa?” “Ada
polisi lagi lari kesini!” kataku sambil berteriak. “Mana?” “itu disana! Yang lagi
lari.” Polisi itu semakin mendekat. Kami pun berteriak “pak polisi! Pak
polisi!” sambil melambaikan tangan. Sudah lama kami ingin seorang polisi dari
jarak dekat. Selama ini kami hanya melihat polisi dari tv dan koran koran yang
bapak beli.
Mba oya semakin antusias ketika pak polisi itu semakin
dekat. Karena merasa bosan, aku iseng iseng melihat ke arah belakang dan di
sana aku melihat ibu dan bapak yang baru saja keluar dari sebuah toko. Aku
mencolek pundak mba oya dan menunjuk ke arah ibu, mba oya menengok dan melihat
ibu yang baru keluar dari sebuah toko. Sadar bahwa mobilnya mengeluarkan bunyi
klakson tanda alarm, bapak segera mematikan alarm dan berlari menuju kami. Aku
tidak memperhatikannya karena aku lebih asyik terhadap polisi yang berlari semakin
kencang.
Ibu dan bapak sampai ke mobil kami terlebih dahulu,
karena memang jarak antara toko yang tadi ibu datangi tidak seberapa jauh dari
mobil kami. Saat itu ibu langsung membuka pintu mobil dan mencari kami. Saat
menemukan kami sedang meneriaki pak polisi yang sedang berlari kearah kami dan
melambaikan tangan, ibu hanya tersenyum. Polisi itu datang ketika ibu sudah
menaikan barang barang belanjaannya di atas mobil. Kami langsung pindah posisi
kedepan agar dapat melihat polisi itu lebih jelas.
“Selamat malam bapak dan ibu," “malam, ada apa ya
pak?” “apakah benar ini adalah kendaraan bapak dan ibu?” “ya benar, ini mobil
kami,” kata bapak. “boleh saya lihat SIM dan STNKnya?” kata polisi itu ramah.
“ada apa ya pak?” “suara kendaraan anda mengganggu rest area ini.” Bapak
menyerahkan SIM dan STNKnya, mba oya yang sedari tadi hanya berdiam diri
berkata dengan suara yang keras “pak polisi!”. Polisi tersebut tersenyum ketika
mba oya memanggilnya. “terimakasih, lain kali jaga putra dan putri bapak,
selamat malam.” Kata polisi itu sambil menyerahkan SIM dan STNK bapak.
Sore berganti malam, kami sering pergi jauh pada malam
hari. Selain karena tidak panas, langit malam juga lebih indah dibanding langit
pada siang hari. Dimalam hari juga jarang terjadi kemacetan. Itulah alasan
mengapa kami lebih suka pergi pada malam hari.
Singkat cerita akhirnya kami sampai ke rumah mbah uti
pada pagi hari, kira kira sekarang jam 07.00
pagi. Sesampainya disana aku dan mba oya langsung menghampiri mang ujang, sang
penjaga kebon. Kami menarik tangan mang ujang sambil menunjuk kolam atau lebih
pantas disebut empang, dengan maksud agar mang ujang menemani kami bermain air.
“Bilang dulu sama mbah uti.” Seperti biasa ketika mang ujang ingin menolak
permintaan kami. “Mbah uti boleh ya” kataku sambil memegangi tangannya. Mbah
uti diam saja, seperti menunggu sesuatu. “Bib udah mbah uti gak bakalan izinin
paling cuma bilang ‘udah makan dulu sana tuh maba ayu sudah masakin ikan bakar
buat dimakan.’ Dan itu selau jadi kenyataan” kata mba oya menebak.
Saat matahari sudah mencapai puncaknya aku dan mba oya
sudah siap pergi bermain air di empang. “Tuhkan kalau udah mandi udah makan
udah shalat jadi tinggal berangkat. Pas jalan jalan juga tidak lapar karena
sudah makan. Dah ke sawah sana sama mba ayu dan mang ujang manen singkong,
sekalian bawa ini buat camilan disana.” Kata mbah uti sambil menyerahkan empat
bungkus manisan. Aku dan mba oya kecewa karena tidak jadi main air, tapi tidak
apa yang penting asyik. Aku, mba oya, mang ujang, dan mba ayupun pergi kesawah.
Di tengah jalan menuju ke sawah aku dan kawan kawan
bertemu dengan mba dwi bersama anaknya ari yang sedang jalan jalan. Walaupun
mba dwi sudah menjadi ibu tetapi kami lebih sering memanggilnya dengan sebutan
“mba” karena sudah terbiasa memanggilnya begitu, susah mengubah kebiasaan itu.
Kami pun mengajak mereka ikut serta untuk pergi ke sawah.
Ketika sudah sampai di sawah mba ayu dan mba dwi duduk
duduk sambil ngobrol di saung yang baru direnofasi beberapa minggu yang lalu. Aku,
mba oya, dan ari langsung menyambar sebuah pohon singkong yang ukurannya tidak
begitu besar. “Eh mba oya, mas habib, mas ari jangan ikutan manen nanti kotor
duduk aja sama mba ayu sama mba dwi. Nanti kalo udah kepanen semua langsung
bisa makan singkong.” “gak mau, maunya ngambil singkong” kata aku dan mba oya
berbarengan, “nanti dimarahin mbah loh” kata mba ayu. “Biarin wek”
Singkong adalah tanaman berakar tunggang yang kuat, ia
juga menyimpan cadangan makanannya pada akar atau umbi akar. Berarti jika ingin
mendapakan singkong harus mencabut tanamannya hingga keakar. Bagi mang ujang
yang sudah terbiasa dangan pekerjaan ini adalah hal yang sepele. Tetapi bagi
kami anak anak usia bawah sepuluh tahun in adalah pekerjaan yang akan menguras
tenaga yang banyak. Mungkin anak anak seusia kami tidak akan bisa mencabut
satupun pohon singkong, tetapi kami dengan semangat yang luar biasa membara
juga kerjasama yang kompak, dan perjuangan yang hebat di atas tanah yang tidak
datar kami berhasil mencabut lima buah pohon yang lumayan besar bagi anak
seusia kami. Itu berarti lima buah akar telah dicabut oleh tiga anak bawah
sepuluh tahun.
Setelah puas mengambili singkong dari akarnya, juga makan
manisan yang tadi dibawa dari rumah kami (aku, mba oya, dan ari) minta izin
dari mba ayu dan mang ujang untuk jalan jalan. “ya boleh tapi maghrib harus
udah ada di rumah.” Kata mang ujang. Begitu mendapat izin kami langsung pergi
ke tempat antah berantah.
Kami mengawali petualangan ini dengan berjalan diantara
padi padi yang mulai menguning. Kami berjalan pada jalan setapak sawah yang
terbuat dari lumpur yang licin, mba oya sempat terpeleset dan jatuh ke sawah
dan kehilangan salah satu dari dua sendalnya. Selanjutnya kami pergi ke ladang
jagung, disana banyak sekali serangga yang berterbangan kami sempat kewalahan
menghadapi serbuan hewan hewan kecil itu. Kami lanjut lagi hingga sampai di
sebuah kebon yang banyak pohonnya. Konon kata orang sekitar sini, kebon ini
adalah batas antara hutan terlarang dan hutan yang boleh dipakai. Dengan
nakalnya kami masuk ke dalam kebon dan terus menerobos hingga kedalam. Aku
merasakan firasat buruk begitu juga mba oya dan ari. Aku tidak hati hati ketika
ada sebuah akar yang terbentang di bawah kakiku, aku pun tersandung dan bajuku
robek dibagian pundak karena tersangkut ranting.
Kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah mbah uti.
Kami berusaha menemukan jalan kembali, tetapi tidak hasilnya. Kami tersesat.
Kami terus berjalan mengikuti kata hati mba oya yang paling tua. Hasilnya kami
menemukan tanah lapang yang luas sekali, seperti lapangan bola. Pada suatu
sudut di tanah lapang itu aku menemukan sekelompok rumput yang aneh. Aku
memanggil mba oya dan ari agar mereka juga melihatnya. “Apa ini?” kata ari
ketika melihat tanaman itu. Kami berdua mengangkat bahu tanda tidak tahu. Aku
mencoba menyentuhnya dengan perasaan sedikit takut, aku takut jika itu adalah
tanaman beracun. Saat kusentuh ternyata tidak apa apa, aku sperti menyentuh
kumpulan benang halus yang banyak. Tanaman itu memiliki tekstur yang sangat
lembut, saking lembutnya rumpun itu jika ada orang yang memegangnya ia akan
berkata “inilah rumput terlembut di dunia.”
Itulah awal dari perjalanan pencarian jalan pulang kami.
Setelah puas melihat lihat keajaiban alam disana aku dan kawan kawan kembali
kebon untuk mencari jalan pulang.
Kali bukan firasat mba oya yang memimpin tetapi akulah
yang memimpin mencari jalan pulang. Aku berusaha mengumpulkan apa yang tadi
kami lihat di dalam kebon. Aku tadi melihat akar pohon yang menjalar, mba oya
melihat tanah berlubang, ari melihat bebatuan yang banyak, kami berusaha
menemukannya lagi dalam upaya menemukan jalan pulang. Setelah beberapa saat
kami berjalan akhirnya aku menemukan akar pohon yang kulihat tadi, kami terus
menelusuri jalan tersebut hingga kami menemukan lubang yang dalam berarti sudah
dua yang ketemu. Kami semakin bersemangat untuk terus menelusuri jalan itu.
“Masih ada harapan” begitulah dihati kami bertiga. Kami terus mencari dan terus
mencari tetapi tetap tidak ketemu barang ketiga yaitu batuan yang banyak.
Kami terus mencari hingga kami melihat ladang jagung dari
kejauhan. Kami langsung berlari kearah ladang jagung tersebut. Kami telah
keluar dari kebon pembatas. Walaupun sudah keluar dari kebon kami masih
kebingungan karena ladang jagung itu sangat luas. Aku menyerah aku terlalu
capek untuk memikirkan jalan pulang, kini giliran ari yang memimpin. “Ikuti
aku” kata ari. Aku dan mba oya mengikuti ari yang berjalan didepan. Kami terus
berjalan lurus menuruni tebing. Sekarang aku tahu bagaimana ari mengetahui secara
pasti jika itu jalan pulang. Karena sedari tadi saat kita pergi, kita hanya
mendaki dan mendaki tidak turun turun. Sudah dapat di tebak akhirnya kita
sampai pada sawah. Ari kini sudah tidak berlari lagi. Ia lebih berhati hati
agar tidak mendapat musibah seperti kami (aku dan mba oya). Tanpa disangka
sangka ari terpeleset ke dalam sawah dan menyebabkan beberapa padi rusak.
Singkat cerita akhirnya kami menemukan jalan pulang dan
dapat bertemu dengan rumah mbah uti. Kami sudah sangat dekat, kami berlari
melewati empang. Tiba tiba “jeburrr...” ari terpeleset dan langsung berenang
bersama ikan di empang. Kami menertawakannya.
Akhirnya kami tiba di rumah mbah uti tepat sebelum azan
maghrib berkumandang. Kami hanya cengar cengir ketika melihat mbah uti yang
sempat khawatir kalau kalau kami diculik. Aku menatap mang ujang sambil berkata
“yang penting belum maghrib.” Ibu hanya menggelengkan kepala bapak sedang
istirahat dan mba ayu sudah pulang. Mbah uti menyuruh kami mandi dan shalat
maghrib. Kamipun mandi sambil main air di bathub. Mbah uti diluar kamar mandi
menunggu kami selesai mandi. Kami senang dengan pengalaman luar biasa ini,
kapan kapan jika ada kesempatan kami akan kembali lagi ke sini untuk merasakan
dan mendapatkan pengalaman seru yang baru. Aku, mba oya, ibu, dan bapak, juga mbah uti.
Cerita Ku
Desa Misteri
Oleh: Habiburrahman
Libur kenaikan kelas sudah tiba. Habib, Azmi , dan Rifqi pergi berlibur.
Mereka pergi ke gunung heoglafist dengan mobil Azmi. Perjalanan yang jauh dan
melelahkan, saat matahari mulai turun merekapun beristirahat di sebuah desa
bernama lafist. ”Mi udah gelap nih, istirahat dulu yuk,” kata Rifqi memberi
usul. ”Iya, Rif udah gelap, ya, ga kerasa,” Azmi mengiyakan menyusul. ”Dikit
lagi nyampe ke puncak, dah ah, lanjut aja,” Habib merasa keberatan. ”kamu sih
enak tinggal tidur aja, lah? Saya harus nyetir, ” Iya, Bib, jangan egois, udah
gelap kayak gini kok malah langsung, nanti bahaya loh.”
”Yang penting kita pikirin mau
bermalam dimana?”
”Betul juga ya, Mi, eh, di situ kayaknya ada desa”
Habib akhirnya mengalah juga.
”Mana, ah?” kata Rifqi sambil mengeluarkan kepalanya keluar jendela. ”Itu loh yang terang terang kayak ada lampu.”
”Ooo... itu, Rif, yang ada kuning
kuningnya.” akhirnya Azmi menemukannya juga.
”Udah gak usah dicari lagi nanti juga ke sana.” Azmipun mengarahkan
mobilnya ketempat yang bercahaya.
Di sepanjang jalan mereka melihat rumah kotak kotak,
”Dilihat dari jendela rumah itu sepertinya penghuninya sudah tidur” kata
Rifqi. ”Memang rumahnya gelap tapi barang kali rumah itu penghuninya masih
bangun, yuk kita coba dulu” Azmi yang sudah kelelahan ingin segera istirahat.
”Ga ah, aku gak mau mengganggu. Eh itu ada rumah yang masih terang yuk kita
coba numpang disana.”Tapi kelihatannya rumah itu angker deh” kata Rifqi
ketakutan. ”Udah ah gitu aja takut” Azmi sudah keluar dari mobil. ”Rif mau ikut
gak dari pada diluar ditemenin sama anjing anjing dipojok itu” Habib menyusul
Azmi. Rifqipun lari kearah Azmi dan Habib yang sudah setengah jalan. ”Ya sama
anjing aja takut” ejek Habib. ”Udah udah” kata Azmi menengahi. Azmi dan
Habibpun mengetuk pintu diikuti Rifqi yang ketakutan.
”Assalamu’alaikum ada orang didalam? halo?” Hening...
akhirnya seseorang didalam membukakan pintu yang kelihatanya sudah tua dan tampak
menyeramkan, Rifqipun menutup matanya. Sesosok nenek nenek tua muncul dari
balik pintu yang barusan dibuka. ”Kan kata saya juga apa, gak ada yang harus
ditakuti” Azmi membuka mata Rifqi secara paksa. ”Anak anak, apa yang kalian
lakukan disini malam malam? Cepat masuk nanti mereka
keburu datang!” ”ssssiapa?” kata Azmi, Habib, dan Rifqi kompak. ”Para penjahat
itu, mereka tak segan segan membunuh siapapun yang mengganggu. Ayo cepat
masuk.” Merekapun masuk kedalam rumah tua itu.
Pagi pagi sekali Rifqi keluar rumah untuk berolahraga. Tiba tiba sebuah mobil
datang dari arah kiri, dan hampir menabrak Rifqi. Pemilik mobil itupun keluar,
dan tampa mengucapkan satu kalimatpun ia memukuli Rifqi. Azmi berlari hendak
menolong Rifqi dari pemilik mobil tadi. Tanpa di sengaja Azmi menendang seorang
anak yang sedang bermain kelereng. Anak tersebutpun menangis, Azmi mencoba
mendiamkannya tetapi tak berhasil. Orang tua anak tadi keluar dari rumah yang
berbentuk kubus sambil membawa sapu. Azmipun dipukulinya tanpa ampun. Habib
pergi menolong Azmi dan Rifqi yang sedang di pukuli oleh orang yang tak dikenal
tadi. ”Aneh, kenapa semua orang disini tak bicara, hanya nenek nenek tua tadi
malam yang bisa bicara” kata Habib yang setengah berlari. Saat Habib sedang
melamun dan tak melihat jalan, Habib menabrak seorang remaja yang memakai baju
sekolah. Habib berlari sekencang kencangnya, ia takut bernasip sama dengan
kedua temannya. Saat itu Rifqi sudah berhasil kabur dari pemilik mobil yang tak
sengaja ia hadang, begitu juga Azmi.
Azmi dan Rifqi menyusul Habib yang dikejar oleh anak remaja aneh. Sekarang
ada empat orang yang sedang kejar kejaran. Habib terus berlari hingga jalan
besar yang tertutup oleh sebuah kayu besar, ”bib tungguin!!!” kata Azmi yang
sedang lari dibelakang anak remaja berpakaian sekolah tersebut. ”Waduh ada kayu
besar bagaimana ini” Habib mencari akal. ”Bib panjat kayunya ayo bib” kata
Rifqi setengah berteriak. Habibpun memanjat kayu yang menghalangi jalan besar.
”Ayo bib kamu pasti bisa” kata Rifqi menyemangati. Habib memanjat kayu besar
tadi dengan susahn payah. ”Ayo.......” anak remaja tadi menyusul Habib yang
sedang memanjat batang tadi. ”Aduh kok susah banget sih” kata Habib. Habib
terus memanjat sebisanya, tangan anak remaja itupun mencapai kaki Habib. Habib
mulai panik, bagai mana jika ia tertarik kembali kebawah dan dihajar oleh anak
tadi. ”Ayo bib jangan nyerah” Azmi dan Rifqi sudah hampir mencapai batang pohon
yang besar tadi. ”Ayo sedikit lagi” kata Habib dalam hati.Habib berhasil
memanjat batang kayu yang besar, iapun melompat kebawah disusul oleh anak
remaja lalu Azmi dan Rifqi.
Sesampainya di jalan besar Habib menarik sebuah ranting untuk menghambat
anak remaja yang mengejarnya, ranting itupun tepat mengenai sasaran. Momen ini
digunakan oleh Azmi dan Rifqi untuk mengejar Habib yang sudah jauh didepan.
Akhirnya Azmi dan Rifqi dapat mengejar Habib, segera setelah itu, anak remaja
berpakaian sekolah tadi sembuh dari maboknya setelah tersabet ranting pohon,
maka terjadilah adegan kejar kejaran lagi. Habib dan kawan kawan lari hingga
sampai ke sebuah sungai yang besar, tanpa berpikir panjang mereka terjun
kedalam sungai karena sudah terdesak. Anak remaja yang mengejar Azmi dan kawan
kawan berhenti sebentar dipinggir sungai seperti sedang berpikir. ”Bagus ini
kesempatan kita untuk pergi dari desa ini” ”apa kamu sudah gila karena dipukuli
oleh bapak bapak anak jelek tadi? Kita akan pergi dengan apa? Apakah kamu ingin
mengikuti sungai ini dan menuju tempat yang tak jelas!” ”Aha, ide yang bagus!
Ayo kita ikuti aliran sungai ini.” Tiba tiba Rifqi merasakan sesuatu yang aneh
”eh sepertinya ada yang aneh deh....” ”Awas!!!!!!” Azmi berteriak melihat anak
remaja lompat kearah teman temannya.
Tiba tiba anak remaja itu berteriak sangat kencang ”tolong tolong aku tak
bisa berenang!!!!!!” Rifqi yang paling belakang menghampirinya. ”Awas Rifqi,
nanti ia akan menerkammu” ”tidak ia sudah berubah apakah kalian tidak
merasakannya? Sebelumnya ia tak bisa bicara tetapi setelah masuk kedalam sungai
ini ia langsung bicara” Ridqi terus berenang melawan arus demi menyelamatkan
anak remaja yang berteriak meminta tollong. ”tidak ia hanya bersandiwara
setelah itu kau akan ditenggelamkannya” Azmi terus berteriak Habib diam saja
dan Rifqi tak menghiraukan teriakan Azmi. ”Terima kasih kau mau berbaik hati
menolongku” ”apa kataku dia tak berbahayakan.” Mereka berempatpun pergi
mengikuti aliran air sungai sambil bercerita. Ternyata anak itu adalah penghuni
kota kecil yang didatangi oleh Rifqi dan kawan kawan.
”Pada suatu pagi, saat aku hendak pergi ke sekolah ada sebuah kabut yang
sangat tebal kabut itu membuatku tak bisa melihat apapun. Sebenarnya nenek
nenek peramal yang tinggal di rumah segitiga telah mengingatkan seluruh
penduduk kota agar masuk kedalam rumahnya tetapi hanya sedikit yang mau
mendengarkannya dan masuk kedalam rumahnya. Hingga kejadian itu tiba hanya
empat orang yang mau mendengarkannya. Saat itu aku bingung apa yang akan aku
lakukan jika terjebak disini selamanya. Tiba tiba ada yang menarikku keluar
dari tubuhku dan melemparkan ku di suatu tempat yang berkabut. Hingga saat
kalian menyadarkanku dari tempat mengerikan itu aku hanya berharap suatu saat
nanti aku keluar dari situ. Oh iya namaku Hilmi terimakasih ya”
Berhari hari mereka menghanyutkan diri di sungai akhirnya mereka sampai
pada tujuanya. Desa terdekat yang berada di kaki gunung. Mereka menceritakan
semua pengalaman mereka di desa yang berada di dekat puncak gunung. Penduduk
desa menertawakan cerita kami dan berkata ”menurut legenda kota lafist sudah
terkena awan panas bertahun tahun silam dan tak menyisakan apapun” memang kisah
ini sulit dipecaya tetapi ditertawakan seperti ini sungguh tak mengenakkan.
”apakah kalian sudah pernah mendaki gunung ini sampai puncak?” kata Habib
memojokan. Para penduduk terdiam ”kami mengaku memang ada yang sudah pernah
tetapi tidak kembali kesini lagi. Sejak saat itu tak ada penduduk desa yang mau
mendaki gunung terkutuk ini.” Akhirnya penduduk desa mempercayai cerita Hilmi
dan kawan kawan. Seluruh penduduk sepakat melaporkan kejadian ini kepada
polisi. Polisipun tak langsung mempercayai cerita ini. Mula mula polisi itu
menertawakan setelah terpojok mereka mulai percaya dan membantu menuntaskan
kegilaan orang orang penghuni kota lafist dengan menyiramkan air dari langit.
Setelah itu penduduk kota lafist yang sudah sadar menceritakan cerita yang
sama. Cerita inipun tersebar kemana mana, hingga saat ini kuceritakan kisah ini
kepada kalian.
The End
Langganan:
Postingan (Atom)
